IEO FEB UI

IEO Report: Indonesia Economic Outlook 2026 National Seminar

Hari, tanggal: Senin, 24 November 2025

Waktu pelaksanaan: 12.00–18.00 WIB

Tempat: Hybrid (Balai Serbaguna Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia dan siaran langsung di YouTube Indonesia Economic Outlook)

Tema: “The Frontier of Fragmentation: Reinforcing Indonesia’s Growth Through Global Turbulence”

 

Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 National Seminar yang diadakan pada tanggal 24 November 2025 sukses berjalan di Balai Purnomo Prawiro, FISIP UI. Acara ini dieksekusi dengan menggandeng dua instansi ternama, Bank Central Asia (BCA) serta Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sebagai Official Research Partner dan Official Knowledge Partner. Seminar ini juga disiarkan secara hybrid melalui kanal YouTube Indonesia Economic Outlook FEB UI, memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari akademisi, praktisi, dan masyarakat umum.

 

Mengusung tema besar “The Frontier of Fragmentation: Reinforcing Indonesia’s Growth Through Global Turbulence”, acara ini dibuka dengan rangkaian sambutan strategis dari Rus’an Nasrudin (Head of Economics Department FEB UI), Qintani Sinaga (CEO IEO 2026), dan Ruiza Rhavenala (Chairman KANOPI FEB UI 2025). Rus’an Nasrudin mengawali dengan memberikan perspektif bahwa keberhasilan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi di angka 5% dengan inflasi rendah adalah sebuah “anomali positif” di tengah ketidakpastian global yang patut dijaga. Senada dengan hal tersebut, Ruiza Rhavenala menekankan bahwa fragmentasi global, mulai dari kebijakan proteksionis hingga dinamika suku bunga, memaksa Indonesia untuk memperkuat fondasi domestik dan sinergi kebijakan secara simultan. Sebagai penutup rangkaian sambutan, Qintani Sinaga menegaskan urgensi kolaborasi intelektual dalam seminar ini dengan menyatakan, “Kami yakin ilmu tidak selayaknya dibiarkan hidup dalam seklusi, melainkan sepatutnya dibiarkan bergerak dinamis dalam masyarakat sehingga dapat berbuah dan menciptakan kehidupan negara yang lebih baik.” Pernyataan ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh peserta untuk tidak hanya menyerap data, tetapi merumuskan solusi nyata bagi tantangan ekonomi di masa depan.

 

Opening Remarks: Pelajaran Sejarah & Teknokrasi Bangsa

Selanjutnya, agenda utama seminar dimulai dengan sesi pembukaan yang menjembatani warisan kebijakan masa lalu dengan strategi ekonomi masa depan. Sesi ini diawali dengan opening remarks dari Boediono (Wakil Presiden RI 2009-2014) yang memberikan kuliah berharga mengenai pentingnya sinergi antara ilmu dan kekuasaan. Beliau menekankan sebuah prinsip fundamental bagi para calon pemimpin: “Kalau kita ingin berhasil membangun negeri, maka politik dan teknokrasi harus bersinergi dan saling mengisi; politik tanpa teknokrasi hanya akan menghasilkan slogan kosong, sementara teknokrasi tanpa dukungan politik hanya akan menjadi wacana indah yang jauh dari kenyataan.”

Intisari Paparan Boediono:

  • Sejarah yang Berulang: Tantangan ekonomi saat ini bukanlah hal baru, melainkan “masalah lama yang muncul kembali dengan baju baru,” sehingga pemahaman sejarah sangat krusial agar bangsa ini lebih siap dan arif.
  • Kekuatan Institusi & Koordinasi: Beliau menceritakan pengalaman di Bappenas pada era 1990-an, di mana satu dokumen (REPELITA) menjadi acuan tunggal nasional. Hal ini krusial agar anggaran pembangunan dialokasikan sesuai prioritas dan menghindari kemubaziran tenaga serta waktu akibat instansi yang berjalan sendiri-sendiri.
  • Dapur Kebijakan (Policy Decision Making): Menyiapkan kebijakan bukan sekadar menghitung data di atas kertas. Beliau mengisahkan bagaimana tim ekonomi senior dulu bekerja tanpa kenal waktu, rapat bisa berlangsung dari pagi hingga menjelang subuh, demi menerjemahkan konsep menjadi action plan operasional yang siap eksekusi.
  • Pentingnya Jaringan Teknokrat: Keberhasilan ekonomi era 70-an hingga 90-an (tumbuh rata-rata 7%) tidak lepas dari tim teknokrat mumpuni yang mampu menggalang dukungan politik. Sinergi ini lahir karena kondisi mendesak (hiperinflasi) yang memaksa politisi dan teknokrat untuk saling membutuhkan demi menyelamatkan bangsa.
  • Kepemimpinan Informal: Beliau menyebut peran penting pemimpin informal (seperti Prof. Widjojo Nitisastro) dalam menjaga soliditas tim ekonomi, sebuah pelajaran bahwa dalam birokrasi, kepemimpinan yang setara dan saling menghormati adalah kunci keberhasilan tim.

 

 

National Keynote Speech I: Navigasi Kebijakan di Tengah Fragmentasi

Setelah perspektif historis disampaikan, acara dilanjutkan dengan National Keynote Speech pertama oleh Ferry Irawan (Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Kemenko Perekonomian) yang memaparkan peta jalan pemerintah menghadapi fragmentasi global. Menanggapi target ambisius pemerintah baru, beliau menyatakan, “Berbicara mengenai pertumbuhan 8% sebenarnya secara historis bukan angka baru bagi kita, namun kita perlu menggali sumber-sumber pertumbuhan baru untuk mencapainya.”

Intisari Kebijakan & Strategi Ferry Irawan:

  • Respons terhadap Dinamika Global: Beliau menyoroti tantangan “Trump 2.0” yang cenderung menggunakan instrumen tarif dan kebijakan unilateral. Sebagai small open economy, Indonesia merespons dengan memperkuat akses pasar internasional, salah satunya lewat finalisasi negosiasi Indonesia-EU CEPA yang memberikan tarif 0% untuk komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, dan tekstil.
  • Akselerasi Belanja & Likuiditas: Untuk menjaga momentum di kuartal IV, pemerintah melakukan langkah extra mile dengan menaruh dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) sebesar Rp276 triliun ke bank-bank Himbara. Tujuannya jelas: menambah likuiditas pasar dan mendorong percepatan penurunan suku bunga agar sektor riil bisa bergerak lebih kencang.
  • Deregulasi & Kepastian Investasi: Pemerintah telah mengundangkan PP 28 Tahun 2025 sebagai “senjata” buat narik investor. Kebijakan ini mewajibkan K/L memberikan izin dalam waktu yang terukur; kalau waktu minimal terlampaui dan dokumen lengkap, izin otomatis dianggap disetujui melalui sistem OSS.
  • Hilirisasi & Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Hilirisasi nggak cuma soal nikel. Pak Ferry mencontohkan KEK Gresik yang sudah punya smelter emas dengan kapasitas produksi 50 ton emas per tahun sebagai model pusat pertumbuhan baru, di samping KEK digital seperti di Nongsa, Batam.
  • Proteksi Industri Padat Karya: Di tengah tekanan global, pemerintah memberikan insentif khusus berupa PPh 21 DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk industri padat karya dan pariwisata, serta subsidi bunga 5% lewat Kredit Investasi Padat Karya untuk modernisasi mesin produksi.
  • Memutus Rantai Pengangguran: Lewat Program Magang Nasional yang diluncurkan Oktober 2025, pemerintah menargetkan 100.000 orang untuk memutus looping masalah “cari kerja butuh pengalaman, tapi pengalaman cuma didapat dari kerja”.

 

 

National Keynote Speech II: Strategi Pertumbuhan di Tengah Abnormalitas Global

Sesi keynote dilanjutkan oleh Mochammad Firman Hidayat (Anggota Dewan Ekonomi Nasional) yang membedah secara mendalam urgensi reformasi domestik sebagai jawaban atas ketidakpastian global yang mencapai level tertinggi dalam sejarah. Beliau menggarisbawahi realita pahit bahwa, “Uncertainty is a tax on growth; ketidakpastian global saat ini bukan lagi sekadar tantangan, tapi sudah menjadi beban nyata yang menahan laju investasi dan konsumsi kita.”

Intisari Paparan Mohammad Firman Hidayat:

  • Ambisi Indonesia Emas 2045: Beliau menegaskan bahwa target pertumbuhan 8% Presiden Prabowo bukan sekadar angka politik, melainkan kebutuhan matematis. Untuk menjadi negara maju sebelum bonus demografi habis di 2034, Indonesia wajib tumbuh di kisaran 6-7% dalam 5-10 tahun ke depan.
  • Abnormalitas Ketidakpastian Global: Tahun 2025 diprediksi menjadi tahun dengan tingkat ketidakpastian kebijakan tertinggi sepanjang sejarah akibat perang tarif, geopolitik, hingga perlambatan ekonomi China. Hal ini memaksa lembaga internasional seperti IMF merevisi proyeksi pertumbuhan global berkali-kali.
  • Risiko “Dua Raksasa” (AS & China): 
    • Amerika Serikat: Meskipun ekonomi AS tumbuh kuat karena sektor AI, terdapat risiko bubble AI yang jika pecah akan menghantam ekonomi global. Namun, tren penurunan suku bunga AS memberikan ruang bagi kebijakan moneter Indonesia untuk lebih ekspansif.
    • China: Indonesia harus waspada terhadap perlambatan ekonomi China dan fenomena overcapacity. China kini membanjiri pasar ASEAN dengan produk murah karena terhambat masuk ke AS, yang jika tidak diantisipasi dapat memukul industri domestik kita.
    • Scaring Effect Pasca-Pandemi: Secara jujur beliau mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi. Sektor padat karya seperti tekstil dan furnitur masih berada 15-22% di bawah level tren pra-pandemi. Hal ini menyebabkan pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal (family/unpaid workers) yang lebih rentan.
  • Kompetisi Investasi: Di saat aliran modal global (FDI) cenderung menurun secara persentase terhadap PDB, Indonesia harus berkompetisi lebih keras dengan negara lain untuk menarik investasi, terutama karena investor global kini cenderung lebih inward-looking.

 

 

International Keynote Speech: Global Outlook & Domestic Resilience

Acara dilanjutkan dengan perspektif internasional dari David Knight (Lead Country Economist for Indonesia and Timor-Leste, World Bank) yang menyoroti posisi unik Indonesia di tengah peta fragmentasi global. Beliau memaparkan bahwa meskipun dunia sedang dihantui ketidakpastian tinggi, Indonesia tetap menunjukkan fundamental makro yang solid, namun terdapat risiko struktural yang mulai membayangi. Beliau menyatakan, “Uncertainty has an immediate cost by increasing transaction costs on business and reducing the likelihood of investment, but Indonesia remains among the more stable emerging market economies.”

Intisari Paparan David Knight:

  • Stabilitas di Tengah Badai: Di saat banyak negara berkembang mengalami guncangan nilai tukar akibat arus keluar modal (capital outflows), Rupiah tetap menunjukkan resiliensi yang cukup baik. Hal ini didukung oleh intervensi yang terukur dari otoritas moneter dan pengelolaan makroekonomi yang konservatif namun efektif.
  • Dilema Ruang Fiskal: David memberikan peringatan dini mengenai kondisi fiskal Indonesia. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara terus merangkak naik, sementara mobilisasi pendapatan domestik masih tergolong rendah di kawasan. Hal ini menciptakan tekanan besar pada fleksibilitas APBN untuk membiayai program-program prioritas.
  • Efek Pengganda Investasi Publik: Beliau menekankan agar pemerintah tidak sembarangan melakukan pemangkasan belanja modal dalam upaya pengetatan fiskal. Berdasarkan analisis World Bank, setiap pengurangan USD 1 pada investasi publik dapat memicu penurunan PDB sebesar USD 1,3 karena hilangnya potensi produktivitas jangka panjang.
  • Revitalisasi BUMN & Danantara: World Bank melihat inisiatif pembentukan badan pengelola investasi (Danantara) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi BUMN. Tujuannya agar perusahaan plat merah tidak hanya menjadi beban fiskal, tapi mampu bersaing secara global dan menjadi magnet bagi Foreign Direct Investment (FDI).

 

 

Moderated Session: Sektor Moneter

Memasuki sesi diskusi panel yang dimoderasi oleh Imaduddin Abdullah (Director of International Collaboration, INDEF), Victor George Petrus Matindas (Head of Banking Research and Analytics, BCA) memberikan gambaran teknis mengenai bagaimana sektor perbankan melihat dinamika duit di pasar. Beliau memberikan “kompas” navigasi bagi pelaku usaha yang sedang bimbang menghadapi tahun 2026. Beliau menegaskan, “Likuiditas global saat ini mulai pulih, namun sisi permintaannya masih lemah; ibarat bensin sudah ada, tapi orang belum mau injak pedal gas dalam-dalam karena masih melihat arah angin.”

Intisari Paparan Victor George Petrus Matindas:

  • Kompas Likuiditas 2026: Melalui pemetaan siklus, Victor menjelaskan bahwa tahun 2026 adalah tahun transisi. Ada peluang 50-50: apakah kita tetap terjebak di fase permintaan rendah atau mulai rebound ke fase pertumbuhan tinggi seiring dengan potensi membaiknya daya beli dan keyakinan investor.
  • Sinyal dari The Fed: Beliau memprediksi bahwa kebijakan suku bunga tinggi AS akan segera melandai. Meskipun sisa tahun 2025 mungkin masih stagnan, pasar berekspektasi akan ada 2 hingga 3 kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026, yang diharapkan dapat menurunkan beban pinjaman di level domestik.
  • Filter Kredit & Risiko Sektoral: Perbankan kini jauh lebih selektif akibat fragmentasi global. Debitur yang sangat bergantung pada ekspor ke negara dengan hambatan tarif tinggi akan diawasi lebih ketat, sementara sektor yang mampu memanfaatkan rantai pasok lokal atau memiliki diversifikasi pasar akan mendapatkan dukungan likuiditas lebih besar.
  • Injeksi Likuiditas Nasional: Meskipun global sedang sulit, likuiditas nasional sebenarnya masih cukup tebal. Hal ini didorong oleh surplus neraca dagang yang konsisten dan strategi belanja pemerintah yang bersifat net injectionke sistem perbankan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai dua digit menjadi bukti bahwa masyarakat dan korporasi masih memiliki simpanan yang kuat.

 

 

Q&A Session Sektor Moneter: Navigasi Likuiditas & Ketahanan UMKM 

Sesi tanya jawab ditutup dengan diskusi interaktif mengenai proyeksi nilai tukar, transmisi suku bunga, dan dukungan konkret perbankan bagi sektor UMKM di tengah ketidakpastian.

  • Proyeksi Nilai Tukar 2026: Menanggapi potensi Rupiah menembus level ekstrem, Victor memaparkan bahwa BCA memproyeksikan Rupiah berada di level Rp16.800-an untuk tahun 2026. Pelemahan ini dinilai sebagai manageable depreciation yang wajar terjadi akibat perbedaan tingkat inflasi dan risiko negara, selama tetap dalam koridor fundamental yang sehat.
  • Insentif GWM untuk UMKM: Beliau menegaskan bahwa penyaluran kredit ke UMKM kini lebih menarik bagi perbankan berkat kebijakan insentif Giro Wajib Minimum (GWM) dari Bank Indonesia. Skema ini memungkinkan bank mendapatkan likuiditas tambahan jika sukses menyalurkan kredit ke UMKM, sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi rakyat.
  • Kepercayaan Sektor Riil: Sebagai penutup, Victor menekankan pentingnya menjaga momentum kepercayaan pasar agar likuiditas tidak mampet di instrumen investasi saja. Beliau menegaskan, “Kita ingin semua orang memiliki confidence yang sama untuk menginjak pedal gas; jangan sampai likuiditas hanya ditabung, tapi harus diinvestasikan ke sektor riil agar ekonomi bisa berputar.”

 


Moderated Session: Sektor Riil & Tantangan Struktural

Memasuki sesi kedua, Shinta Kamdani (Ketua Umum APINDO) memberikan “tamparan realita” mengenai kondisi industri nasional yang sedang terjepit turbulensi global dan pelemahan domestik. Beliau menekankan bahwa tanpa reformasi struktural yang serius, Indonesia berisiko mengalami deindustrialisasi dini. Beliau menegaskan, “Sektor riil terjepit dari dua arah; pasar domestik menyusut karena daya beli yang belum pulih, sementara pasar global melemah akibat fragmentasi perdagangan internasional.” 

Intisari Paparan Shinta Kamdani:

  • Krisis Lapangan Kerja Formal: Masalah utama bangsa bukan sekadar pengangguran, tapi minimnya lapangan kerja layak (decent work). Saat ini, 67% pengangguran nasional didominasi oleh Gen Z (usia 15-29 tahun), sementara sektor informal terus menebal hingga mencapai hampir 60% karena sulitnya masuk ke sektor formal.
  • Premature Deindustrialization: Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus merosot dari 24% menjadi hanya 18%. Investasi yang masuk pun kini lebih bersifat padat modal; jika dulu Rp1 triliun investasi bisa menyerap 4.000 orang, sekarang hanya terserap sekitar 1.300 orang.
  • Penyusutan Kelas Menengah: Dalam lima tahun terakhir (2019-2024), Indonesia kehilangan hampir 10 juta penduduk kelas menengah. Kelompok ini adalah penggerak utama 81% konsumsi rumah tangga, sehingga penurunan jumlah mereka langsung memukul sektor riil.
  • Strategi Navigasi 2026: Untuk bangkit, APINDO mengusulkan 5 fokus strategis: revitalisasi industri padat karya, penguatan daya beli kelas menengah, peningkatan kualitas investasi (ICOR), diversifikasi pasar ekspor (pemanfaatan IEU-CEPA), dan penguatan tata kelola program prioritas pemerintah.

 

 

Q&A Session Sektor Riil: Gender, UMKM, & Investasi

Sesi tanya jawab menjadi ajang diskusi kritis mengenai peran perempuan dan efisiensi birokrasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

  • Pemberdayaan Perempuan: Menjawab pertanyaan audiens mengenai dilema ibu rumah tangga, Shinta menekankan pentingnya ekosistem kerja yang ramah gender. Beliau mendorong perusahaan untuk menyediakan infrastruktur pendukung seperti ruang laktasi, daycare, dan kebijakan flexible working hours melalui teknologi digital agar perempuan tetap bisa berkarya tanpa meninggalkan peran domestik.
  • Formalisasi UMKM: Shinta menyoroti banyaknya UMKM perempuan yang terjebak di sektor informal karena sulitnya akses modal (aset seringkali bukan atas nama perempuan). Solusinya adalah membantu UMKM melakukan formalisasi usaha agar bisa “naik kelas” dan memiliki legalitas yang diakui institusi finansial.
  • Indonesia Incorporated: Menanggapi risiko 2026, Shinta mempromosikan konsep “Indonesia Incorporated”, di mana pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Beliau menuntut pemerintah untuk lebih mendengar suara pelaku usaha melalui koordinasi, konsistensi kebijakan, dan komunikasi publik yang baik guna menekan high cost economy (biaya logistik 23% PDB) yang membuat kita kalah saing dari Vietnam.

 

 

Moderated Session: Sektor Fiskal & Ketahanan APBN

Menutup rangkaian diskusi sektoral, Wahyu Utomo (Direktur Strategi APBN, Kemenkeu) memaparkan arsitektur kebijakan fiskal Indonesia yang harus tetap sehat di tengah beban belanja yang makin berat. Beliau menekankan bahwa APBN bukan sekadar angka, tapi alat untuk mencapai kesejahteraan. Beliau menyatakan, “Syarat untuk sejahtera itu ada tiga: ekonomi tumbuh tinggi, sektor riil bergerak kencang, dan sektor keuangan berputar cepat; namun ketiganya hanya bisa terwujud jika APBN-nya sehat.”

Intisari Paparan Wahyu Utomo:

  • APBN sebagai Shock Absorber: Di tengah turbulensi global (perang dagang, krisis energi), APBN berperan meredam gejolak dengan melindungi daya beli melalui stimulus Rp31,5 triliun untuk BLT Kesra (Desil 1-4) dan bantuan pangan demi menjaga konsumsi tetap stabil.
  • Strategi Defisit & Utang 2026: Pemerintah mematok defisit pada level 2,68% untuk tahun 2026 (sekitar Rp689 triliun). Angka ini dipilih secara terukur untuk menjaga rasio utang tetap aman di kisaran 40% PDB, sekaligus memastikan kebijakan fiskal tetap ekspansif untuk mendukung program prioritas.
  • Inovasi Likuiditas: Wahyu menjelaskan langkah strategis pemerintah menggeser dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) sebesar Rp200 triliun ke bank Himbara. Tujuannya adalah menyiram pasar dengan likuiditas agar suku bunga kredit turun dan sektor riil bisa punya modal murah untuk ekspansi.
  • Fokus 8 Agenda Prioritas: Fiskal 2026 akan difokuskan pada kemandirian pangan, energi, Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan UMKM, serta akselerasi investasi yang berorientasi ekspor guna mengejar target pertumbuhan 8% di masa depan.

 

 

Q&A Session Sektor Fiskal: Transparansi & Efisiensi Pajak

Sesi tanya jawab menjadi momen krusial saat audiens mempertanyakan beban program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap kesehatan jangka panjang APBN.

  • Efektivitas Makan Bergizi Gratis (MBG): Menanggapi keraguan soal efektivitas MBG, Wahyu menegaskan bahwa kebijakan ini harus memiliki empat pilar: konsep kuat, implementasi tepat, dampak nyata, dan tata kelola yang bersih. Beliau berharap MBG tidak hanya soal kesehatan siswa, tapi juga menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal melalui pemberdayaan petani dan pemasok daerah.
  • Optimalisasi Penerimaan Tanpa Menekan Ekonomi: Menjawab pertanyaan soal tantangan pajak, Wahyu menjelaskan strategi Collecting More & Spending Better. Kemenkeu kini fokus pada “menambal kebocoran” dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak melalui sistem Core Tax (koneksi profil wajib pajak dengan aset riil) daripada menaikkan tarif yang justru bisa mematikan daya beli masyarakat.
  • Ruang Fiskal & Danantara: Beliau menekankan pentingnya instrumen seperti Danantara (badan pengelola investasi) agar proyek-proyek strategis tidak terus-menerus membebani APBN, melainkan bisa dikelola secara profesional melalui skema pembiayaan inovatif yang melibatkan swasta.

 

 

Closing Remarks: Advancing Resilience Through Collaboration

Acara Indonesia Economic Outlook 2026 National Seminar secara resmi ditutup dengan pesan inspiratif dari Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 2020-2024) yang menekankan bahwa resiliensi Indonesia di tengah turbulensi global sangat bergantung pada kemampuan generasi muda untuk beradaptasi dan berkolaborasi. Beliau memberikan apresiasi tinggi kepada panitia IEO FEB UI atas keberhasilannya menciptakan wadah diskusi yang substansial bagi para young policy makers. Beliau mengingatkan bahwa penguatan fundamental domestik, terutama melalui pemberdayaan UMKM dan optimalisasi ekonomi kreatif, adalah kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam dinamika fragmentasi dunia. Sebagai pesan pamungkas yang membakar semangat audiens, beliau menegaskan: “Mari kita jadikan tantangan global ini sebagai momentum untuk memperkuat sinergi, karena di tangan anak muda lah ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *