IEO FEB UI

IEO Report: Indonesia Economic Outlook 2026 Forum

Hari, tanggal: Selasa, 30 September 2025

Waktu pelaksanaan: 12.00–17.00 WIB

Tempat: Hybrid (BRIN Gatot Subroto Grand Ballroom dan siaran langsung Youtube Indonesia Economic Outlook)

Tema: “Danantara’s Grand Vision: Strengthening Trust and Economic Growth Through Indonesia’s Sovereign Wealth Fund”.

 

Acara Indonesia Economic Outlook 2026 Forum telah diselenggarakan pada hari Selasa, 30 September 2025, dengan mengangkat tema besar “Danantara’s Grand Vision: Strengthening Trust and Economic Growth Through Indonesia’s Sovereign Wealth Fund”. Acara ini dilaksanakan dengan menggandeng dua instansi ternama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Center of Economic and Law Studies (CELIOS) sebagai Official Forum Partner dan Official Knowledge Partner. Forum ini berlangsung di BRIN Gatot Subroto Grand Ballroom, Jakarta Selatan, serta disiarkan secara hybrid melalui kanal YouTube Indonesia Economic Outlook FEB UI, sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari kalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum.

Forum diawali dengan sambutan oleh Ashintya Damayanti, Ph.D., selaku Deputy Director, Master’s Program in Economic Planning and Development Policy (MPKP) FEB UI. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan pemerintah dalam menciptakan kebijakan ekonomi yang adaptif terhadap dinamika global dan nasional. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi lintas lembaga dalam penyelenggaraan Indonesia Economic Outlook 2026 Forum yang diharapkan menjadi ruang reflektif dan solutif bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia. Selanjutnya, sambutan diberikan oleh Ruiza Rhavenala, selaku Chairman, KANOPI FEB UI, yang menyoroti konsistensi KANOPI FEB UI dalam menghadirkan ruang diskursus ekonomi strategis tahunan sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa tema tahun ini menjadi relevan mengingat urgensi reformasi tata kelola dan kepercayaan publik terhadap instrumen investasi negara. Setelah itu, sesi sambutan ditutup oleh Qintani Abigail Debora Sinaga, Chief Executive Officer, Indonesia Economic Outlook 2026, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan forum ini. Qintani juga menekankan bahwa IEO 2026 dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat peran generasi muda dalam memaknai arah kebijakan ekonomi Indonesia yang sedang bertransformasi melalui pembentukan Danantara.

 

Welcoming Remarks: Memetakan Arah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Fase Downswing

Pada sesi Welcoming Remarks, Bapak Agus Eko Nugroho, Chairman Research Organization for Governance, Economy, and Community Welfare BRIN, membuka forum dengan refleksi mendalam mengenai arah dan tantangan ekonomi Indonesia. Beliau menyoroti posisi strategis Danantara sebagai instrumen penting dalam memperkuat kepercayaan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui tata kelola keuangan yang lebih inovatif dan kredibel. Dalam sambutannya, Bapak Agus Eko menegaskan perlunya perubahan paradigma ekonomi agar Indonesia dapat keluar dari fase pertumbuhan stagnan dan kembali menuju era ekspansi yang berkelanjutan.

Poin-poin utama sambutan:

  • Refleksi ekonomi historis: Bapak Agus Eko menjelaskan bahwa Indonesia telah melewati periode high growth pada era 1980–1990-an dan kini berada dalam fase down-swing dengan pertumbuhan sekitar 5% selama dua dekade terakhir.
  • Tantangan struktural: Pertumbuhan potensial ekonomi Indonesia dinilai telah mendekati pertumbuhan aktual, menandakan perlunya upaya memperbesar kapasitas pertumbuhan jangka panjang.
  • Peran Danantara: Dipandang sebagai game changer dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui optimalisasi peran Sovereign Wealth Fund dan inovasi tata kelola yang mendorong kepercayaan pasar.
  • Governance dan kepercayaan: Bapak Agus Eko menekankan pentingnya sistem tata kelola yang baik (governance system) sebagai faktor utama pembentuk kepercayaan dan keyakinan publik terhadap stabilitas ekonomi.
  • Kolaborasi akademik dan riset: Bapak Agus Eko juga mengapresiasi kolaborasi antara KANOPI FEB UI dan BRIN, yang diharapkan berlanjut tidak hanya pada forum diskusi, tetapi juga dalam bentuk riset dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
  • Harapan ke depan: Forum ini diharapkan dapat melahirkan perspektif baru dan gagasan segar bagi penguatan ekonomi Indonesia melalui sinergi riset, kebijakan, dan tata kelola yang berkelanjutan.

 

Keynote Session: “Danantara sebagai Pilar Strategis untuk Memperkuat Kepercayaan dan Investasi Nasional”

Selanjutnya, pada sesi Keynote Session, Bapak Mochammad Firman Hidayat selaku Anggota Dewan Ekonomi Nasional menyoroti berbagai dinamika ekonomi global dan tantangan struktural yang dihadapi Indonesia dalam upaya mencapai visi menjadi negara maju pada tahun 2045. Beberapa poin penting yang beliau sampaikan antara lain:

  • Visi dan target pertumbuhan: Indonesia perlu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6–7% selama dekade mendatang agar dapat mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2045.
  • Ketidakpastian global: Tahun 2025 disebut sebagai tahun yang penuh ketidakpastian, dengan tensi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, dan perubahan harga komoditas global menjadi faktor utama yang mempengaruhi stabilitas ekonomi.
  • Pemulihan pasca-pandemi: Sektor padat karya, seperti tekstil dan manufaktur belum sepenuhnya pulih, dengan efek scarring yang menyebabkan banyak pekerja berpindah ke sektor informal atau gig economy.
  • Kualitas lapangan kerja: Meski tingkat pengangguran menurun, sebagian besar pekerjaan baru bersifat informal dan berupah rendah. Hal ini berkontribusi pada pelemahan daya beli kelas menengah.
  • Kebijakan jangka pendek: Pemerintah mendorong stimulus fiskal dan pelonggaran moneter, termasuk percepatan belanja APBN, program magang, subsidi upah, dan relaksasi suku bunga oleh Bank Indonesia untuk memperkuat permintaan domestik.
  • Reformasi struktural dan deregulasi: Untuk mendorong pertumbuhan jangka menengah, pemerintah tengah menyiapkan revisi kebijakan perizinan (PP No. 28) guna memangkas waktu dan prosedur investasi.
  • Peluang relokasi investasi: Negosiasi tarif dengan Amerika Serikat membuka peluang relokasi industri dari Vietnam dan Tiongkok ke Indonesia, terutama pada sektor padat karya seperti garmen dan alas kaki.
  • Pembelajaran dari deregulasi era 1980-an: Beliau menekankan bahwa deregulasi yang dilakukan secara konsisten pada era tersebut mampu mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi hingga di atas 8% dan hal itu menjadi inspirasi bagi reformasi ekonomi saat ini.

 

Panel Discussion Session: “Menakar Efektivitas dan Tantangan Implementasi Sovereign Wealth Fund di Indonesia”

Memasuki sesi diskusi panel, forum dipandu oleh Bapak Dionisius A. Narjoko, Ph.D., Senior Economist ERIA, yang menghadirkan empat narasumber dari berbagai perspektif. Panel pertama, Bapak Toto Pranoto, Associate Partner BUMN Research Group LMUI, memberikan pandangan dari sisi pemerintahan. Dalam paparannya, Bapak Toto Pranoto memberikan tinjauan komprehensif mengenai arah baru pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pasca lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Danantara. Beliau menyoroti bahwa kebijakan ini merupakan langkah reformasi besar yang berpotensi mengubah secara fundamental tata kelola, fungsi, dan struktur kelembagaan BUMN di Indonesia. Bapak Toto menegaskan pentingnya menjaga prinsip good corporate governance di tengah pergeseran peran negara dan peningkatan otonomi yang dimiliki Danantara dalam mengelola portofolio aset publik.

Poin-poin utama yang disampaikan antara lain:

  • Transformasi regulasi dan struktur baru: Undang-Undang 1/2025 menjadi amandemen besar atas regulasi lama (UU K3 1923 tentang BUMN), dengan rencana pembentukan Badan Pengatur BUMN (BP BUMN) menggantikan peran Kementerian BUMN.
  • Perubahan fungsi pengawasan: Ke depan, badan pengatur hanya memiliki dua fungsi sebagai regulator dan pemegang saham syariah, sedangkan fungsi dewan pengawas akan sepenuhnya dipegang oleh Danantara, memberi otonomi lebih besar dalam pengambilan keputusan.
  • Fenomena pareto pada BUMN: Sekitar 20% BUMN menghasilkan 80% total penjualan dan laba, menunjukkan ketimpangan produktivitas antarperusahaan. Kondisi ini menjadi dasar perlunya restrukturisasi besar-besaran.
  • Konsolidasi dan efisiensi aset: Pemerintah menargetkan pengurangan jumlah BUMN dan anak perusahaannya dari lebih dari 1.000 menjadi sekitar 200 entitas yang lebih efisien melalui merger, akuisisi, dan clustering sektor sejenis.
  • Struktur internal Danantara: Danantara dibagi menjadi dua unit utama, Danantara Asset Management (DAM) untuk pengelolaan aset BUMN, dan Danantara Investment Management (DIM) untuk investasi langsung dan pengelolaan portofolio strategis nasional.
  • Implikasi fiskal: Model baru ini membuat pemerintah tidak lagi menyalurkan Penyertaan Modal Negara (PMN) secara langsung, melainkan melalui Danantara. Pendapatan dan dividen BUMN akan terpusat di bawah lembaga tersebut.
  • Mandat strategis Danantara: Fokus awal meliputi delapan prioritas utama, termasuk hilirisasi, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan penguatan sektor industri strategis nasional.
  • Tantangan profitabilitas dan PSO: Bapak Toto menyoroti dilema antara target profit dan fungsi sosial BUMN. Dari tujuh tujuan BUMN dalam UU, hanya dua yang bersifat komersial, sementara lima lainnya bersifat sosial seperti fungsi perintisan dan kewajiban pelayanan publik (public service obligation).
  • Pembelajaran dari model luar negeri: Beliau membandingkan struktur Danantara dengan Temasek Holdings (Singapura) dan Khazanah Nasional (Malaysia), di mana pemisahan antara entitas komersial dan strategis menjadi kunci efektivitas pengelolaan.
  • Arah jangka panjang: Bapak Toto berharap Danantara tidak hanya memperkuat daya saing domestik, tetapi juga mampu membawa BUMN Indonesia menjadi pemain global, sebagaimana BUMN Tiongkok yang menempati posisi dominan di daftar Fortune Global 500.

 

Sesi Panel Discussion dilanjutkan oleh pemaparan dari Ibu Dian Ayu Yustina, selaku Head of Macroeconomics and Finance, Bank Mandiri. Ibu Dian Ayu Yustina menyampaikan perspektif ekonomi makro yang melatarbelakangi pembentukan Danantara. Beliau menjelaskan bahwa dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian menjadi konteks utama munculnya kebutuhan reformasi kelembagaan BUMN melalui pembentukan entitas baru ini. Menurutnya, pelemahan ekonomi dunia akibat perang dagang, risiko geopolitik, dan perlambatan harga komoditas menuntut Indonesia untuk memperkuat investasi domestik sebagai pendorong pertumbuhan. Oleh karena itu, Danantara diharapkan dapat berfungsi sebagai katalis ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.

Poin-poin utama yang disampaikan antara lain:

  • Latar belakang global: Dua peristiwa besar mempengaruhi lanskap ekonomi dunia, perang dagang yang diinisiasi Amerika Serikat serta eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian pasar dan tekanan terhadap pertumbuhan global.
  • Dampak terhadap Indonesia: Perlambatan ekonomi global menekan ekspor Indonesia yang masih bergantung pada komoditas, seperti batubara dan CPO. Harga komoditas menurun, sementara hanya emas dan nikel yang mengalami kenaikan karena faktor geopolitik dan perubahan strategi investasi global, khususnya langkah Tiongkok yang mengalihkan asetnya dari US Treasury ke emas.
  • Volatilitas pasar domestik: Ketidakpastian global berdampak pada fluktuasi pasar keuangan domestik, terlihat dari pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah yang sempat turun signifikan pada awal tahun akibat tekanan eksternal dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
  • Respons kebijakan global: Tren pelonggaran suku bunga global, termasuk kemungkinan penurunan BI Rate, memberikan sinyal positif terhadap potensi pemulihan ekonomi dan peningkatan investasi di Indonesia.
  • Tantangan pertumbuhan domestik: Meskipun ekonomi Indonesia cukup resilien, pertumbuhannya stagnan di kisaran 5%. Untuk menembus batas tersebut, diperlukan peningkatan investasi produktif dan optimalisasi demographic dividend yang akan berakhir sekitar 2035.
  • Sektor prioritas: Sektor manufaktur dan pertanian menjadi kunci karena menyerap tenaga kerja besar dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Pertumbuhan kedua sektor ini akan memperkuat daya beli dan mendorong konsumsi domestik.
  • Kebutuhan investasi besar: Berdasarkan proyeksi Bappenas, Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp47.000 triliun hingga 2029 di berbagai sektor strategis, termasuk infrastruktur, energi, pangan, dan industri.
  • Peran Danantara: Dengan perlambatan arus investasi asing, peran Danantara menjadi krusial dalam memobilisasi dana domestik untuk investasi produktif. Dua unit utamanya, Asset Management dan Investment Management, diharapkan mampu menyehatkan BUMN serta mengarahkan investasi ke sektor berdampak tinggi.
  • Sektor unggulan masa depan: Beberapa prioritas investasi meliputi energi terbarukan, infrastruktur digital, jasa kesehatan, ketahanan pangan, dan hilirisasi industri. Sektor-sektor ini dinilai mampu menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
  • Proyeksi dan tantangan ke depan: Ibu Dian menutup dengan pandangan optimistis bahwa ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh di atas 5%, tapi akselerasi menuju 6–7% hanya bisa tercapai melalui reformasi struktural yang memperkuat produktivitas dan daya saing. Dalam konteks tersebut, Danantara diharapkan menjadi instrumen strategis untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Pembicara ketiga pada Sesi Panel Discussion adalah Bapak Zamroni Salim, selaku Head of Macroeconomics and Finance, BRIN. Dalam paparannya, Bapak Zamroni Salim menekankan bahwa pandangannya terhadap Danantara bersifat non-judgmental dan lebih sebagai tawaran alternatif model pembangunan bagi Indonesia. Ia menilai bahwa berdirinya Danantara merupakan langkah besar Presiden Prabowo dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Namun, untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitasnya, Danantara perlu memilih arah strategi pertumbuhan yang tepat, dengan menimbang dua model utama sovereign wealth fund dunia: Temasek dari Singapura dan Norwegian Government Pension Fund Global (NGPFG) dari Norwegia.

Poin-poin utama yang disampaikan beliau adalah sebagai berikut:

  • Dua Model Acuan:
    • Temasek Growth Model, bersifat progresif, berani mengambil risiko, dan agresif berinvestasi di ekuitas global. Jika Danantara mengikuti jalur ini, potensi aset bisa tumbuh hingga USD 275 triliun, dengan fokus awal pada portofolio investasi sebelum terjun langsung ke proyek-proyek strategis.
    • Norwegian Growth Model, bersifat konservatif, berfokus pada investasi produktif dengan risiko moderat. Model ini menekankan keseimbangan antara ekuitas (70%) dan fixed income (30%), yang terbukti mampu mengangkat pendapatan per kapita Norwegia hingga USD 340.000.
  • Tahapan investasi dan sumber pendanaan:

    Danantara sebaiknya tidak langsung menyalurkan dana pada proyek, melainkan terlebih dahulu membangun keuntungan dari investasi portofolio. Dividen hasil investasi inilah yang kemudian dapat digunakan untuk membiayai proyek nasional secara berkelanjutan.
  • Peran strategis dan tujuan:

    Pemerintah akan memperoleh dua manfaat utama dari Danantara: pajak dan dividen, yang berfungsi sebagai sumber pendapatan baru negara. Namun, kegiatan Danantara harus berorientasi profit, sementara misi sosial sebaiknya dijalankan oleh lembaga seperti Perum atau BUMN khusus.
  • Fokus pada core business:

    Dr. Zamroni menegaskan pentingnya fokus Danantara pada core business-nya sebagai lembaga investasi, bukan sebagai operator proyek. Keberhasilan akan ditentukan oleh sejauh mana Danantara mampu memperkuat portofolio dan menghasilkan keuntungan yang konsisten.
  • Pilihan strategis bagi Indonesia:

    Menurutnya, baik model Temasek maupun Norwegian dapat diadopsi dengan prinsip ceteris paribus, selama syarat-syarat tata kelola, transparansi, dan disiplin investasi dipenuhi. Model yang dipilih akan menentukan posisi Danantara dalam jangka panjang: apakah sebagai investor progresif seperti Singapura, atau investor stabil dan konservatif seperti Norwegia.

 

Pembicara terakhir pada sesi Panel Discussion adalah Bapak Media Wahyudi Askar, selaku Director of Fiscal Justice, CELIOS. Bapak Media Wahyudi Askar. menyoroti bahwa pembentukan Danantara merupakan langkah berani dan potensial dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia, namun juga menyimpan sejumlah risiko makroekonomi dan tata kelola yang perlu diwaspadai. Beliau menekankan bahwa keberhasilan Danantara tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset, tetapi juga oleh governance, transparency, dan kesesuaian fungsi lembaga ini dengan struktur fiskal dan moneter nasional.

Poin-poin utama:

  • Struktur dan fungsi fiskal:

    Danantara perlu memiliki batasan fungsi yang jelas agar tidak menimbulkan tumpang tindih dengan lembaga fiskal seperti Kementerian Keuangan dan otoritas moneter seperti Bank Indonesia. Jika pengelolaan aset Danantara terlalu terintegrasi dengan APBN, risiko fiskal seperti moral hazard dan soft budget constraint dapat meningkat.
  • Potensi risiko makroekonomi:

    Pembentukan lembaga besar seperti Danantara dapat memunculkan risiko crowding out investasi swasta, terutama bila sumber dananya berasal dari sektor keuangan domestik. Selain itu, bila ekspansi aset dilakukan tanpa kontrol risiko yang kuat, potensi too big to fail bisa menjadi ancaman baru bagi stabilitas makroekonomi.
  • Governance dan akuntabilitas:

    Bapak Media menekankan pentingnya good governance framework untuk menjaga independensi Danantara. Transparansi laporan keuangan, audit berkala, serta pembatasan intervensi politik merupakan syarat mutlak agar lembaga ini tidak menjadi instrumen politik jangka pendek.
  • Pembelajaran dari luar negeri:

    Beliau mencontohkan bahwa beberapa sovereign wealth fund di negara berkembang gagal mencapai tujuannya karena lemahnya tata kelola dan orientasi investasi yang tidak jelas. Menurutnya, Indonesia harus belajar dari kasus tersebut dengan memastikan bahwa Danantara dijalankan secara profesional, tidak semata-mata untuk kepentingan fiskal jangka pendek.
  • Peran terhadap perekonomian nasional:

    Bila dikelola dengan baik, Danantara berpotensi menjadi stabilisator ekonomi dan sumber pembiayaan alternatif untuk proyek-proyek strategis nasional. Namun, jika tata kelola dan pengawasan tidak memadai, lembaga ini justru bisa menimbulkan fiscal vulnerability baru dalam jangka panjang.

 

Secara keseluruhan, Indonesia Economic Outlook 2026 Forum berhasil menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil dalam membahas peran strategis Danantara bagi masa depan ekonomi Indonesia. Forum ini menjelaskan pentingnya trust-based governance, inovasi kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *